Bila
Anda menyukai kidung-kidung pujian lama, yang mungkin ada di Kidung Jemaat atau
beberapa kidung lain yang dipakai oleh gereja-gereja Protestan, Baptis, atau
Injili, Anda akan menemukan nama Fanny J. Crosby di sana.
Fanny J Crosby telah mengarang
sangat banyak lagu (lebih dari 8000 lagu) yang sampai sekarang masih
dinyanyikan dengan penuh semangat – misalnya Blessed Assurance ('Ku Berbahagia,
KJ 392), Safe in the Arms of Jesus (Selamat Di Tangan Yesus, KJ 388), Pass Me
Not, O Gentle Saviour (Mampirlah, dengar doaku, KJ 26), Jesus, Keep Me Near the
Cross (Pada Kaki SalibMu, KJ 368). Setiap lagu yang dikarangnya merupakan bukti
kecintaannya terhadap Yesus.
Masa Kecil
Fanny dilahirkan pada 24 Maret
1820 dari pasangan John dan Mercy Crosby. Pada bulan Mei 1820, ketika ia masih
berumur enam minggu, ia terkena demam, dan matanya agak terganggu. Dokternya di
Putnam County, New York, tempatnya berada, sedang keluar kota. Saat itu ada
orang yang mengaku sebagai dokter, salah memberikan pengobatan kepadanya dan ia
tak bisa melihat lagi. Orang itu lari meninggalkan kota karena panik.
Orang tua Fanny adalah orang
Kristen yang taat. Mereka membesarkan Fanny menjadi anak mandiri. Orang yang
mempunyai pengaruh kuat pada masa kanak-kanak Fanny adalah neneknya. Sebagai
wanita yang cerdas dan sabar, ia sering mengajak Fanny berjalan-jalan di alam
terbuka, menceritakan setiap kuntum bunga dan daun-daun secara sangat rinci dan
Fanny mempelajarinya dengan sentuhan-sentuhan jarinya. Ia pula yang
memperkenalkan Fanny pada karya-karya sastera dan puisi. Dan yang terpenting,
ia membacakan cerita-cerita dari Alkitab setiap hari.
Walaupun mendapat pendidikan
dengan penuh perhatian, kehausan Fanny akan pengetahuan tak pernah terpuaskan;
ingatannya sangat luar biasa. Pada umur sepuluh tahun ia dapat mengingat
sebagian besar Perjanjian Baru dan lima kitab Perjanjian Lama. Sayangnya,
karena sekolah pada masa itu belum dilengkapi dengan perangkat untuk mengajar
orang buta, ia tidak dapat memperoleh pendidikan umum.
Mulai Bersekolah dan “Mengalami” Tuhan
Fanny berlutut bersama neneknya
dan berdoa: “Tuhan yang Mahabaik, tunjukkan pada saya bagaimana saya dapat
belajar seperti anak-anak lain.” Tak lama kemudian ibunya menyampaikan berita
menggembirakan tentang kesempatan untuk masuk ke Institut Bagi Orang Buta di
New York.
Dalam tahun itu juga, ia menjadi
siswi terbaik dan setelah lulus ia menjadi guru di situ. Minat utamanya pada
puisi, pada waktu senggang ia menuliskan puisi.
Ketika Fanny berumur dua puluh,
ia terkenal di New York dan menjadi pembicara yang banyak dicari untuk
kutipan-kutipan puisi maupun untuk upacara-upacara resmi.
Walaupun populer, ia merasakan
ada sesuatu yang kurang pada hidupnya, terjadinya wabah kolera yang hebat pada
tahun 1849 menunjukkan padanya apakah itu. Lebih dari separuh siswa-siswi
di Institut mati, salah satunya mati di pelukannya. Setelah membantu merawat
mereka yang sakit selama beberapa bulan, ia hampir tertular oleh penyakit itu
dan ia mengungsi ke luar kota.
Kematian teman-teman dekatnya
sangat mengguncangkan Fanny. Di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia belum siap
untuk mati. Pada 20 November 1850 ia berlutut di depan mimbar gereja dan
memberikan hatinya kepada Yesus. Penulis biografi Basil Miller menceritakan
kata-katanya: “Untuk pertama kali saya menyadari bahwa saya telah mencoba
memegang dunia di salah satu tangan dan Tuhan di tangan yang lain.”
Akhirnya,
Tuhan yang diperkenalkan oleh neneknya menjadi nyata baginya.
Mulai Membuat Lagu
Puisi-pusinya mencerminkan
perubahan di hatinya, dan lagu-lagu pujian menggantikan puisi-puisinya. Ketika
ia bertemu dengan komponis Kristen William Bradbury pada tahun 1864, segera
mereka bersahabat. Bradbury membuat lagu-lagu bagi banyak syair-syair Fanny;
walaupun ia bekerja dengan banyak komponis, kerjasama mereka yang paling erat.
Fanny biasanya mengarang puluhan
lagu di kepalanya sebelum ia mendiktekannya pada sekretarisnya, tetapi
bagaimana pun ia mencipta, ia selalu menggunakan cara yang sama. Ia menyebutkan
caranya: “Mungkin cara ini kuno, yaitu selalu memulai pekerjaan dengan berdoa,
saya tak pernah menuliskan lagu tanpa meminta pada Tuhan untuk menjadi sumber
inspirasi saya.”
Ia menerima banyak undangan untuk
berbicara hingga ia kewalahan, dan orang terkenal seperti Presiden Polk sering memanggilnya.
Dengan memiliki banyak teman dan relasi, ia tak pernah merasa kesepian.
Pada
tahun 1858, Tuhan memberikan padanya seorang yang istimewa dalam kehidupannya,
yaitu musisi buta Alexander Van Alstyne. Mereka menikah selama 44 tahun dan
mempunyai seorang anak yang meninggal pada waktu bayi.
Walaupun
pada akhir masa-masa hidupnya, Fanny tetap sibuk seperti biasa, bukan hanya
dengan menulis lagu. Ia menaruh perhatian pada mereka yang kurang beruntung,
dan ia bekerja sukarela pada pusat pelayanan lokal. Bila ada seseorang yang
datang padanya dengan pertanyaan atau keperluan, ia selalu menemuinya secara
pribadi dan membagikan padanya terang Firman Allah.
Semasa hidupnya, tentang
kebutaannya seorang pendeta dengan rasa simpatik bertanya kepadanya, "Saya
rasa, sungguh membangkitkan belas kasihan, bahwa Sang Pencipta tidak memberi
Anda penglihatan, padahal Ia memberikan banyak sekali karunia lain pada
Anda."
Dengan tangkas Fanny menjawab,
"Tahukah Anda, seandainya pada saat saya lahir saya bisa mengajukan
permohonan, saya akan meminta, agar saya dilahirkan buta?"
"Mengapa?" tanya
pendeta itu terperanjat.
"Karena bila saya naik ke
surga nanti, wajah pertama yang akan membangkitkan sukacita dalam pandangan
saya adalah wajah Sang Juruselamat!"
Fanny wafat dengan tenang di
rumahnya di Bridgeport, Connecticut, pada 12 Februari 1915. Kerumunan pada saat
pemakamannya merupakan bukti pengaruhnya yang luas yang dimilikinya bagi Tuhan.
Kata-kata ini berasal dari salah satu lagunya (Saved by Grace) yang menyatakan
hal yang paling diharapkannya: “And I shall see Him face to face and tell the
story – saved by grace. (Dan aku akan bertemu muka dengan-Nya dan menuturkan
kisah - diselamatkan oleh anugerah.)”
Source: dari berbagai sumber