"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."
Matius 11:28

Rabu, 29 Mei 2013

Bangunlah dan Pergilah



Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat. 
Kisah Para rasul 9:4-6 

Pada ayat pertama, kisah para rasul 9 menuliskan bagaimana berkobar-kobarnya hati Saulus (sebutan untuk Paulus sebelum bertobat) untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Namun seperti halilintar di siang bolong, justru rencana Saulus untuk berniat jahat kepada para murid Tuhan digagalkan oleh Tuhan sendiri. Tidak hanya menggagalkannya tapi yang lebih luarbiasanya lagi Tuhan memiliki rencana ajaib bagi Paulus. 
Tuhan mulai memperkenalkan dirinya kepada Paulus sebagai Pribadi yang turut teraniaya dikala Paulus menganiaya para pengikut-Nya. Dan yang lebih mengherankan lewat segala kejahatan yang telah diperbuat Paulus—Tuhan tidak memberikan suatu penghukuman, melainkan meminta Paulus; ”Bangunlah dan pergilah, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kau perbuat.” 

Dalam perjalanan ke Damsyik ini, perjalanan dengan hati berkobar untuk mengancam dan membunuh.. Tuhan memanggilnya, menyadarkannya dan bahkan memakainya untuk menjadi pelayan dan saksi-Nya. ”Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.” (Kis.26:16). 

Kisah ini mengingatkan kepada kita bahwa Paulus dipilih bukan karena siapa dirinya. Sebelum pertobatannya, Paulus bukanlah orang yang lebih baik dari kita. Ia dipilih oleh Tuhan juga bukan karena memenuhi standart kriteria seorang pelayan atau murid Tuhan. Hanya karena anugerah Allah yang membuat Paulus dipilih menjadi pelayan dan saksi-Nya. Bagian Paulus adalah ”bangun dan pergi” untuk mulai mengikuti kehendak Tuhan dalam hidupnya. 

Demikian halnya dengan diri kita, tidak ada hal yang pantas diperhitungkan dalam pribadi kita yang membuat kita dapat melayani dan menjadi saksi Tuhan, selain anugerah Tuhan sendiri bagi kita. Hanya jika Tuhan meminta kita saat ini untuk terlibat dalam pekerjaan-Nya, maukah kita meresponi panggilan Tuhan tersebut? Apakah kita sampai saat ini hanya menjadi orang yang takut untuk ”bangun dan pergi” mengikuti kehendak Tuhan, karena masih diliputi dengan ”hati yang berkobar” untuk memuaskan diri? Banyak hal yang dapat kita kerjakan untuk melayani Tuhan dan menjadi saksi-Nya. Semuanya dimulai dengan kemauan untuk ”Bangun dan Pergi.” Roh Kudus yang akan memberikan kuasa untuk bersaksi bagi Tuhan. 


Selasa, 21 Mei 2013

KEADAAN HATI: Suatu Pendorong Doa Seseorang


I Raja-Raja 8:37-40
 Apabila di negeri ini ada kelaparan, apabila ada penyakit sampar, hama dan penyakit gandum, belalang, atau belalang pelahap, apabila musuh menyesakkan mereka di salah satu kota mereka, apabila ada tulah atau penyakit apa pun,
lalu seseorang atau segenap umat-Mu Israel ini memanjatkan doa dan permohonan di rumah ini dengan menadahkan tangannya -- karena mereka masing-masing mengenal apa yang merisaukan hatinya sendiri --
maka Engkau pun kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediaman-Mu yang tetap, dan Engkau kiranya mengampuni, bertindak, dan membalaskan kepada setiap orang sesuai dengan segala kelakuannya, karena engkau mengenal hatinya -- sebab Engkau sajalah yang mengenal hati semua anak manusia, --
supaya mereka takut akan Engkau selama mereka hidup di atas tanah yang telah Kauberikan kepada nenek moyang kami.




Konteks perikop keseluruhan bicara soal Doa Salomo bagi fungsi rumah Tuhan yang ia bangun, supaya Tuhan berkenan tinggal dan menjawab doa orang-orang Israel yang datang ke Bait suci tersebut.  Inti dari doa salomo bukan pada pengkultusan gedung, bukan juga pada gaya berdoa. yang menjadi renungan saat ini.. ay.38 “yang mendorong seseorang untuk berdoa bermula dari keadaan hati.”


Ayat. 38 “… karena mereka masing-masing mengenal apa yang merisaukan hatinya sendiri..” Umumnya apa yang dialami oleh seseorang secara otomatis maka pasti akan mempengaruhi keadaan hatinya.Situasi yang baik à membuat keadaan hati senang, situasi yg buruk à menyebabkan keadaan hati sedih, gundah. Persoalannya tiap orang menyadari tidak keadaan hatinya yang dialami saat ini…?

Kadang kala doa-doa kita dipengaruhi keadaan hati ini.  Ini yang membuat kita kadang susah menyembah, susah mengucapsyukur, karena tidak menyadari keadaan hati yang sedang “terganggu”. Yang lebih berbahaya lagi, kita tidak menyadari apa yang membuat keadaan hati tidak nyaman, gundah gulana, gelisah, mungkin karena beban persoalan yang sedang dihadapinya.. namun mencari pelampiasan emosi kepada pihak lain termasuk Tuhan.

Oleh sebab itu Salomo jelaskan dalam doanya di ayat 37; segala kondisi hidup yang dialami pada umumnya orang. “….Kelaparan sebabkan hilangnya sumber makanan sekalipun ada uang, penyakit, hama yang menyerang sumber mata pencaharian, musuh sebagai teror keamanan..”
Koma (,) disana… lalu mereka memanjatkan doa dan permohonan (dua hal yang dibedakan)
“segala permintaan Doa dan Sembah” (TL)
“sembahyang dan permohonan” (KJV)
Sikap doa.. penyembahan dan permohonan dengan Menadahkan tangannya.. sebagai suatu sikap dorongan dari “karena mereka mengenal apa yang merisaukan hatinya sendiri”.  
 Ayat 39a bicara soal respon Tuhan: mendengarkan… mengampuni… betindak… membalaskan (mengadili) setiap orang menurut segala kelakuannya…
“Tuhan mengenal hati semua anak manusia”. Ini sebagai kesimpulan yang menegaskan Tuhan tidak bisa didustai.


Mereka menyadari keadaan hatinya sebagai imbas dari situasi yang sedang dialami. Namun sikap yang mereka lakukan tetap ada “Doa dan Permohonan” Penyembahan dan permohonan. Lihat langkah-langkah dari respon Tuhan (Mendengar.. mengampuni.. baru bertindak.. (jika ada yang tidak beres diadili termasuk si pendoa itu).

 Bagaimana dengan doa-doa kita?  Jangan-jangan karena desakan keadaan hati membuat kita hanya suka menaikkan permohonan saja dan enggan untuk menyembah Tuhan.  Dan kita berharap Tuhan langsung bertindak saja, padahal kita tidak menyadari kesalahan kita, kita tidak minta ampun apalagi mengampuni…     Atau mungkin Tuhan sedang bertindak tapi bukan untuk melakukan apa yang kita inginkan, tapi melakukan apa yang Tuhan inginkan yaitu: “mengadili” kita, karena kedapatan kita yang bersalah dan tidak sadar-sadar!

Apa yang harus kita lakukan sebelum kita berdoa?
  1. Sadari dan kenali keadaan hati kita… senang, sedih, gelisah, kecewa, apa yang mempengaruhinya…?
  2. Setelah menyadari jangan jadikan orang lain, apalagi Tuhan obyek pelampiasan emosi keadaan hati kita.
  3. Tuhan selalu lebih mengerti keadaan hati kita dan bagaimana memulihkannya. untuk itu, naikkan permohonan tapi jangan pernah lupakan untuk menyembah Tuhan.

~ chris aw~




Fanny J Crosby (Seorang buta yang tetap meminta dilahirkan buta)


Bila Anda menyukai kidung-kidung pujian lama, yang mungkin ada di Kidung Jemaat atau beberapa kidung lain yang dipakai oleh gereja-gereja Protestan, Baptis, atau Injili, Anda akan menemukan nama Fanny J. Crosby di sana.
 Fanny J Crosby telah mengarang sangat banyak lagu (lebih dari 8000 lagu) yang sampai sekarang masih dinyanyikan dengan penuh semangat – misalnya Blessed Assurance ('Ku Berbahagia, KJ 392), Safe in the Arms of Jesus (Selamat Di Tangan Yesus, KJ 388), Pass Me Not, O Gentle Saviour (Mampirlah, dengar doaku, KJ 26), Jesus, Keep Me Near the Cross (Pada Kaki SalibMu, KJ 368). Setiap lagu yang dikarangnya merupakan bukti kecintaannya terhadap Yesus.

Masa Kecil
 Fanny dilahirkan pada 24 Maret 1820 dari pasangan John dan Mercy Crosby. Pada bulan Mei 1820, ketika ia masih berumur enam minggu, ia terkena demam, dan matanya agak terganggu. Dokternya di Putnam County, New York, tempatnya berada, sedang keluar kota. Saat itu ada orang yang mengaku sebagai dokter, salah memberikan pengobatan kepadanya dan ia tak bisa melihat lagi. Orang itu lari meninggalkan kota karena panik.
 Orang tua Fanny adalah orang Kristen yang taat. Mereka membesarkan Fanny menjadi anak mandiri. Orang yang mempunyai pengaruh kuat pada masa kanak-kanak Fanny adalah neneknya. Sebagai wanita yang cerdas dan sabar, ia sering mengajak Fanny berjalan-jalan di alam terbuka, menceritakan setiap kuntum bunga dan daun-daun secara sangat rinci dan Fanny mempelajarinya dengan sentuhan-sentuhan jarinya. Ia pula yang memperkenalkan Fanny pada karya-karya sastera dan puisi. Dan yang terpenting, ia membacakan cerita-cerita dari Alkitab setiap hari.
 Walaupun mendapat pendidikan dengan penuh perhatian, kehausan Fanny akan pengetahuan tak pernah terpuaskan; ingatannya sangat luar biasa. Pada umur sepuluh tahun ia dapat mengingat sebagian besar Perjanjian Baru dan lima kitab Perjanjian Lama. Sayangnya, karena sekolah pada masa itu belum dilengkapi dengan perangkat untuk mengajar orang buta, ia tidak dapat memperoleh pendidikan umum.

Mulai Bersekolah dan “Mengalami” Tuhan
Fanny berlutut bersama neneknya dan berdoa: “Tuhan yang Mahabaik, tunjukkan pada saya bagaimana saya dapat belajar seperti anak-anak lain.” Tak lama kemudian ibunya menyampaikan berita menggembirakan tentang kesempatan untuk masuk ke Institut Bagi Orang Buta di New York.
Dalam tahun itu juga, ia menjadi siswi terbaik dan setelah lulus ia menjadi guru di situ. Minat utamanya pada puisi, pada waktu senggang ia menuliskan puisi. 
Ketika Fanny berumur dua puluh, ia terkenal di New York dan menjadi pembicara yang banyak dicari untuk kutipan-kutipan puisi maupun untuk upacara-upacara resmi.

Walaupun populer, ia merasakan ada sesuatu yang kurang pada hidupnya, terjadinya wabah kolera yang hebat pada tahun 1849 menunjukkan padanya apakah itu. Lebih dari separuh  siswa-siswi di Institut mati, salah satunya mati di pelukannya. Setelah membantu merawat mereka yang sakit selama beberapa bulan, ia hampir tertular oleh penyakit itu dan ia mengungsi ke luar kota.

Kematian teman-teman dekatnya sangat mengguncangkan Fanny. Di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia belum siap untuk mati. Pada 20 November 1850 ia berlutut di depan mimbar gereja dan memberikan hatinya kepada Yesus. Penulis biografi Basil Miller menceritakan kata-katanya: “Untuk pertama kali saya menyadari bahwa saya telah mencoba memegang dunia di salah satu tangan dan Tuhan di tangan yang lain.” 
Akhirnya, Tuhan yang diperkenalkan oleh neneknya menjadi nyata baginya.

Mulai Membuat Lagu
Puisi-pusinya mencerminkan perubahan di hatinya, dan lagu-lagu pujian menggantikan puisi-puisinya. Ketika ia bertemu dengan komponis Kristen William Bradbury pada tahun 1864, segera mereka bersahabat. Bradbury membuat lagu-lagu bagi banyak syair-syair Fanny; walaupun ia bekerja dengan banyak komponis, kerjasama mereka yang paling erat.
Fanny biasanya mengarang puluhan lagu di kepalanya sebelum ia mendiktekannya pada sekretarisnya, tetapi bagaimana pun ia mencipta, ia selalu menggunakan cara yang sama. Ia menyebutkan caranya: “Mungkin cara ini kuno, yaitu selalu memulai pekerjaan dengan berdoa, saya tak pernah menuliskan lagu tanpa meminta pada Tuhan untuk menjadi sumber inspirasi saya.”

Ia menerima banyak undangan untuk berbicara hingga ia kewalahan, dan orang terkenal seperti Presiden Polk sering memanggilnya. Dengan memiliki banyak teman dan relasi, ia tak pernah merasa kesepian. 
Pada tahun 1858, Tuhan memberikan padanya seorang yang istimewa dalam kehidupannya, yaitu musisi buta Alexander Van Alstyne. Mereka menikah selama 44 tahun dan mempunyai seorang anak yang meninggal pada waktu bayi.
Walaupun pada akhir masa-masa hidupnya, Fanny tetap sibuk seperti biasa, bukan hanya dengan menulis lagu. Ia menaruh perhatian pada mereka yang kurang beruntung, dan ia bekerja sukarela pada pusat pelayanan lokal. Bila ada seseorang yang datang padanya dengan pertanyaan atau keperluan, ia selalu menemuinya secara pribadi dan membagikan padanya terang Firman Allah.

Semasa hidupnya, tentang kebutaannya seorang pendeta dengan rasa simpatik bertanya kepadanya, "Saya rasa, sungguh membangkitkan belas kasihan, bahwa Sang Pencipta tidak memberi Anda penglihatan, padahal Ia memberikan banyak sekali karunia lain pada Anda."
Dengan tangkas Fanny menjawab, "Tahukah Anda, seandainya pada saat saya lahir saya bisa mengajukan permohonan, saya akan meminta, agar saya dilahirkan buta?"
"Mengapa?" tanya pendeta itu terperanjat.
"Karena bila saya naik ke surga nanti, wajah pertama yang akan membangkitkan sukacita dalam pandangan saya adalah wajah Sang Juruselamat!" 

Fanny wafat dengan tenang di rumahnya di Bridgeport, Connecticut, pada 12 Februari 1915. Kerumunan pada saat pemakamannya merupakan bukti pengaruhnya yang luas yang dimilikinya bagi Tuhan. 
Kata-kata ini berasal dari salah satu lagunya (Saved by Grace) yang menyatakan hal yang paling diharapkannya: “And I shall see Him face to face and tell the story – saved by grace. (Dan aku akan bertemu muka dengan-Nya dan menuturkan kisah - diselamatkan oleh anugerah.)” 



Source: dari berbagai sumber

Wilma Rudolph (Si Lumpuh yang bermimpi jadi Pelari Wanita Tercepat di Bumi)


Wilma Rudolph dilahirkan dari satu keluarga miskin di Tennesse, Amerika Serikat. Di usia empat tahun ia diserang beberapa jenis penyakit, yaitu radang pada saluran pernapasan dan demam berdarah, sebuah kombinasi yang mematikan. Ia juga lumpuh karena penyakit polio yang dideritanya. Karena itu, ia harus menggunakan alat penyangga bagi tubuhnya, dan dokter mengatakan bahwa ia tidak akan pernah bisa menginjak atau berjalan dengan kedua kakinya. Namun ibunya terus memberinya dorongan dan semangat. Ia mengatakan kepada Wilma bahwa Tuhan telah memberinya segala kemampuan, ketekunan, daya juang, dan iman untuk melakukan dan mencapai apapun yang ia inginkan.
Tanpa disangka Wilma lalu berkata; “Saya ingin menjadi pelari wanita tercepat di Bumi ini.”

Diusianya yang ke Sembilan ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nasihat dokter, ia melepaskan alat penyangga tubuhnya, dan mulai mencoba melangkah – sesuatu yang menurut dokter  tidak akan pernah bisa dilakukannya.

Di usianya yang ke 13, ia memutuskan untuk mengikuti sebuah lomba lari. Hasilnya, ia berada pada urutan yang paling akhir dari semua peserta lomba. Tidak merasa putus asa, ia mendaftarkan diri untuk lomba yang kedua, ketiga, keempat dengan hasil yang tetap sama, ia berada pada urutan paling akhir dari semua peserta lomba.
Dengan optimism dan semangat juang yang tidak mengenal menyerah, ia mengikuti lomba lari yang kelima dan hasilnya ia berhasil menjadi pemenang, suatu prestasi yang l;uar biasa.

Diusianya yang ke 15 ia masuk Tennesse State University dan bertemu dengan seorang pelatih yang bernama Ed Temple. Wilma berkata kepada Ed Temple bahwa ia ingin menjadi pelari tercepat di bawah koklong langit ini. Melihat semangat juang dan keinginan yang begitu kuat pada diri Wilma, Ed Temple lalu berkata, “Melihat optimism dan semangat juang dalam diri anda, saya yakin tidak aka nada yang sanggup menghalangimu untuk meraih cita-citamu, selain itu saya bersedia menolongmu.”

Melalui proses yang panjang, Wilma terpilih menjadi salah satu anggota tim olimpiade, suatu ajang pertemuan para atlet terbaik dunia. Wilma ditempatkan bersama pelari wanita lain yang belum pernah terkalahkan. Ia bernama Jutta Heine.
Lomba pertama yang diikutinya adalah 100 meter lomba lari putri. Di situ secara mengejutkan ia masuk babak final dan untuk pertama kali ia mengalahkan Jutta Heinne. Ia menerima medali emas pertamanya di arena olimpiade. Pada lomba 200 meter putrid ia kembali mengalahkan Jutta Heinne untuk kedua kalinya dan mendapatkan medali emasnya yang kedua.
Lomba berikutnya 400 meter estafet putri. Dalam lomba estafet, pelari tercepat selalu ditempatkan pada lap terakhir, Wilma dan Jutta Heine sama-sama berperan sebagai jangkar pada tim masing-masing. Ketika tiba giliran Wilma menerima tongkat estafet, tongkat terlepas dari tangannya dan jatuh. Pada saat yang sama Jutta Heine telah melejit ke depan. Wilma mengambil tongkat yangt jatuh dan berlari bagaikan angin, dan untuk ketiga kalinya ia mengalahkan Jutta Heine, musuh bebuyutannya. Wilma dan timnya memenangkan medali emas, dan merupakan medali emas ketiga baginya. Ia menciptakan sejarah: wanita yang tadinya lumpuh menjadi wanita tercepat di bumi pada olimpiade tahun 1960.

Bahwa kelumpuhan yang diderita Wilma Rudolph memang adalah suatu kesulitan dn tantangan yang sangat tidak ringan untuk diatasi. Apalagi dokter telah “memvonis” bahwa ia tidak akan pernah bisa berjalan.
Pada kondisi seperti itu banyak orang akan menyerah dan menyalahkan factor nasib. Namun, Wilma tidak demikian, ia tidak sedikit pun mengizinkan kesulitan menghalanginya meraih cita-cita. Fisiknya memang lumpuh, tetapi ia tidak mengizinkan kelumpuhan fisik melumpuhkan pikirannya. Kemerdekaan yang paling hakiki dari manusia tidak terletak pada fisiknya, tetapi pada pikirannya.

Sumber: “Success in Life Through Positive Words” – Alexander Paulus