Apabila di negeri ini ada kelaparan, apabila ada penyakit sampar, hama dan
penyakit gandum, belalang, atau belalang pelahap, apabila musuh menyesakkan
mereka di salah satu kota mereka, apabila ada tulah atau penyakit apa pun,
lalu seseorang atau segenap umat-Mu Israel ini memanjatkan doa dan permohonan
di rumah ini dengan menadahkan tangannya -- karena mereka masing-masing
mengenal apa yang merisaukan hatinya sendiri --
maka Engkau pun kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediaman-Mu yang
tetap, dan Engkau kiranya mengampuni, bertindak, dan membalaskan kepada setiap
orang sesuai dengan segala kelakuannya, karena engkau mengenal hatinya -- sebab
Engkau sajalah yang mengenal hati semua anak manusia, --
supaya mereka takut akan Engkau selama mereka hidup di atas tanah yang telah
Kauberikan kepada nenek moyang kami.
Konteks
perikop keseluruhan bicara soal Doa Salomo bagi fungsi rumah Tuhan yang ia
bangun, supaya Tuhan berkenan tinggal dan menjawab doa orang-orang Israel yang
datang ke Bait suci tersebut.
Inti
dari doa salomo bukan pada pengkultusan gedung, bukan juga pada gaya berdoa. yang menjadi renungan saat ini.. ay.38 “yang mendorong seseorang untuk berdoa bermula dari
keadaan hati.”
Ayat. 38 “… karena mereka masing-masing mengenal
apa yang merisaukan hatinya sendiri..” Umumnya apa yang dialami oleh
seseorang secara otomatis maka pasti akan mempengaruhi keadaan hatinya.Situasi yang baik à membuat keadaan hati senang, situasi
yg buruk à menyebabkan keadaan hati sedih,
gundah. Persoalannya tiap orang menyadari
tidak keadaan hatinya yang dialami saat ini…?
Kadang kala doa-doa kita dipengaruhi keadaan hati ini.
Ini
yang membuat kita kadang susah menyembah, susah mengucapsyukur, karena tidak
menyadari keadaan hati yang sedang “terganggu”. Yang
lebih berbahaya lagi, kita tidak menyadari apa yang membuat keadaan hati tidak
nyaman, gundah gulana, gelisah, mungkin karena beban persoalan yang sedang dihadapinya..
namun mencari pelampiasan emosi kepada pihak lain termasuk Tuhan.
Oleh sebab itu Salomo jelaskan dalam
doanya di ayat 37; segala kondisi hidup yang dialami pada umumnya orang. “….Kelaparan sebabkan hilangnya sumber
makanan sekalipun ada uang, penyakit, hama yang menyerang sumber mata
pencaharian, musuh sebagai teror keamanan..”
Koma (,) disana… lalu mereka memanjatkan doa dan permohonan (dua hal
yang dibedakan)
“segala permintaan Doa dan Sembah”
(TL)
“sembahyang dan permohonan” (KJV)
Sikap doa.. penyembahan dan permohonan dengan
Menadahkan tangannya.. sebagai suatu sikap dorongan dari “karena mereka mengenal apa
yang merisaukan hatinya sendiri”.
Ayat 39a bicara soal respon Tuhan:
mendengarkan… mengampuni… betindak… membalaskan (mengadili) setiap orang menurut
segala kelakuannya…
“Tuhan mengenal hati semua anak
manusia”. Ini sebagai kesimpulan yang menegaskan Tuhan tidak bisa didustai.
Mereka
menyadari keadaan hatinya sebagai imbas dari situasi yang sedang dialami. Namun
sikap yang mereka lakukan tetap ada “Doa dan Permohonan” Penyembahan dan
permohonan. Lihat
langkah-langkah dari respon Tuhan (Mendengar.. mengampuni.. baru bertindak.. (jika ada
yang tidak beres diadili termasuk si pendoa itu).
Bagaimana
dengan doa-doa kita?
Jangan-jangan
karena desakan keadaan hati membuat kita hanya suka menaikkan permohonan saja dan
enggan untuk menyembah Tuhan.
Dan
kita berharap Tuhan langsung bertindak saja, padahal kita tidak menyadari
kesalahan kita, kita tidak minta ampun apalagi mengampuni…
Atau
mungkin Tuhan sedang bertindak tapi bukan untuk melakukan apa yang kita
inginkan, tapi melakukan apa yang Tuhan inginkan yaitu: “mengadili” kita,
karena kedapatan kita yang bersalah dan tidak sadar-sadar!
Apa
yang harus kita lakukan sebelum kita berdoa?
- Sadari dan kenali keadaan hati kita… senang, sedih, gelisah, kecewa, apa yang mempengaruhinya…?
- Setelah menyadari jangan jadikan orang lain, apalagi Tuhan obyek pelampiasan emosi keadaan hati kita.
- Tuhan selalu lebih mengerti keadaan hati kita dan bagaimana memulihkannya. untuk itu, naikkan permohonan tapi jangan pernah lupakan untuk menyembah Tuhan.
~ chris aw~


